Tubuh manusia memiliki sistem pengatur suhu alami (termoregulasi) yang dikendalikan oleh hipotalamus di otak. Suhu tubuh tergantung pada kemampuan tubuh untuk mengatur keseimbangan antara panas yang diterima dan panas yang dikeluarkan dari tubuh.
Dalam kondisi normal, suhu tubuh inti manusia terjaga di kisaran 36,5°C hingga 37,3°C. Namun, paparan lingkungan yang ekstrem atau gangguan kesehatan tertentu dapat membuat sistem ini gagal berfungsi, menyebabkan kondisi berbahaya yang dikenal sebagai hypotermia (suhu terlalu rendah) dan hypertermia (suhu terlalu tinggi). ( https://www.alodokter.com/hipotermia )
1.Hypotermia
Suhu tubuh rendah atau hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh di bawah 35 derajat Celsius. Hipotermia adalah kondisi darurat yang berisiko menghambat pernapasan, aliran darah, dan fungsi organ penting, seperti jantung dan otak. Jika tidak ditangani dengan tepat, hipotermia berisiko kematian. Hipotermia bisa disebabkan oleh paparan suhu atau cuaca yang terlalu dingin.
2. Hypertermia
Hipertermia adalah kondisi ketika suhu tubuh di atas 40 derajat Celsius. Kondisi ini disebabkan oleh ketidakmampuan sistem pendingin tubuh untuk menghadapi suhu yang terlalu panas, sehingga suhu tubuh meningkat secara tidak terkendali. (https://puskesmasperampuan-dikes.lombokbaratkab.go.id/artikel/ketahui-bahaya-hipotermia-dan-hipertermia/ )
PEMBAHASAN
Suhu tubuh pasien merupakan salah satu indikator vital yang wajib dipantau secara ketat dalam lingkungan klinis. Berbeda dengan kasus di alam liar atau luar ruangan yang murni dipicu oleh cuaca ekstrem, Hypotermia dan Hypertermia di rumah sakit sering kali berkaitan dengan Tindakan anestesi dan pembedahan adalah salah satu penyebab kejadian hipotermia, tindakan medis, efek samping obat, lingkungan ruang operasi, atau komplikasi dari penyakit mendasar pasien.
Pemahaman mengenai manifestasi klinis dan penanganan kedua kondisi ini di lingkungan rumah sakit sangat penting untuk mencegah kegagalan organ dan menurunkan angka mortalitas pasien.
Tabel Perbandingan Kasus Rumah Sakit
| Parameter | Hypotermia Rumah Sakit | Hypertermia Rumah Sakit |
| Konteks Utama | Sering terjadi pascaoperasi / efek anestesi | Akibat reaksi obat berat atau kerusakan otak |
| Pemicu Utama | Suhu ruangan operasi dingin, cairan infus dingin, paparan bedah | Hipertermia Maligna, NMS, cedera hipotalamus |
| Komplikasi Utama | Perdarahan meningkat, infeksi luka, iskemia miokard | Gagal ginjal, rhabdomiolisis, kerusakan otak |
| Terapi Spesifik | Forced-air warmer, fluid warmer, Hypohypertermia | Obat Dantrolene, cooling blanket, bilas cairan dingin dan Hypohypertermia |
Pemantauan suhu tubuh yang ketat dan intervensi dini oleh tim medis (dokter anestesi, perawat bedah, dan intensivis) sangat krusial untuk mencegah komplikasi fatal akibat gangguan termoregulasi iatrogenik ini
Manajemen dan Cara Penanganan Pasien Hypotermia Pasca-Operasi
Hypotermia pasca-operasi (postoperative hypothermia) merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi di ruang pemulihan (Post-Anesthesia Care Unit / PACU). Kondisi ini terjadi ketika suhu inti tubuh pasien turun di bawah 35°C setelah menjalani prosedur pembedahan.
Kombinasi antara efek obat anestesi yang melumpuhkan pusat pengaturan suhu di otak (hipotalamus) dan paparan udara dingin di kamar operasi menjadi pemicu utamanya. Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, hipotermia dapat memicu komplikasi serius seperti gangguan pembekuan darah, peningkatan risiko perdarahan, aritmia jantung, hingga memperlama proses penyembuhan luka.
Berikut adalah panduan klinis dan cara penanganan pasien yang mengalami hipotermia pasca-operasi.
1. Penilaian dan Pemantauan Awal (Assessment)
Sebelum melakukan tindakan penghangatan, tim medis harus melakukan evaluasi kondisi pasien secara berkala:
- Pengukuran Suhu Inti: Mengukur suhu tubuh secara kontinu atau berkala (minimal setiap 15 menit di ruang PACU) menggunakan termometer yang akurat (biasanya melalui membran timpani, esofagus, atau kandung kemih).
- Observasi Gejala Fisik: Memeriksa adanya keluhan menggigil (shivering), kulit pucat, perabaan akral (ujung tangan dan kaki) yang dingin, serta sianosis (warna kebiruan) pada kuku atau bibir.
- Monitoring Tanda Vital: Memantau ketat denyut jantung, tekanan darah, dan saturasi oksigen, karena hipotermia dapat menekan sistem kardiovaskular.
2. Metode Penghangatan Pasif (Passive Rewarming)
Metode ini dilakukan untuk mencegah hilangnya panas tubuh lebih lanjut melalui radiasi dan konveksi. Cocok untuk pasien dengan hipotermia sangat ringan.
- Mengganti Baju Basah: Segera lepas baju operasi yang basah akibat cairan disinfektan, darah, atau keringat, lalu ganti dengan pakaian yang kering.
- Penggunaan Selimut Katun Berlapis: Menutup tubuh pasien dengan beberapa lapis selimut kering hangat (selimut yang telah disimpan di dalam lemari penghangat/blanket warmer).
- Isolasi Kepala: Memasang penutup kepala atau topi pada pasien, karena area kepala merupakan salah satu jalur pelepasan panas terbesar pada tubuh.
3. Metode Penghangatan Aktif Eksternal (Active External Rewarming)
Untuk pasien dengan hipotermia klinis (<35°C) atau pasien yang menggigil hebat, metode aktif luar wajib diterapkan:
- Forced-Air Warming System (Selimut udara Hangat): Alat ini menyalurkan udara hangat secara konstan melalui selimut khusus yang diletakkan di atas tubuh pasien.
- Radiant Warmer : Menggunakan alat pemancar panas radiasi yang diarahkan ke tubuh pasien. Umumnya sering digunakan pada pasien pediatrik/bayi di ruang pemulihan.
- HypoHypertermia : Alat ini merupakan gold standard (metode terbaik) Alat ini menggunakan media Air yang di salurkan pada blanket yang sudah kita setting suhunya ( Hangat ) yang langsung di letakan atau menempel pada Body dan Kepala pasien secara langsung secara konsisten tanpa terhalang media udara ruang, Tindakan ini lebih akurat karena menyentuh dan menempel langsung pada kulit pasien.
4. Metode Penghangatan Aktif Internal (Active Internal Rewarming)
Jika hipotermia masuk dalam kategori sedang-berat atau tidak merespons tindakan eksternal, intervensi internal dilakukan:
- Intravenous Fluid Warmer: Seluruh cairan infus atau produk darah yang diberikan kepada pasien wajib dialirkan melalui alat penghangatan khusus (fluid warmer) agar masuk ke tubuh pada suhu sekitar 37°C.
- Oksigenasi Hangat: Memberikan bantuan oksigen yang telah dilewatkan melalui alat pelembap dan penghangat (warmed humidified oxygen).
Manajemen dan Cara Penanganan Pasien Hypertermia Di Rumah Sakit .
Hypertermia di rumah sakit ditandai dengan lonjakan suhu tubuh di atas 38,5°C hingga >40°C akibat kegagalan tubuh membuang panas. Kondisi ini harus dibedakan secara tegas dari “demam” (pyrexia) biasa yang dimediasi oleh zat pirogen akibat infeksi.
- Penyebab Spesifik di Rumah Sakit:
- Hypertermia Maligna (Malignant Hyperthermia): Kelainan genetik langka namun fatal yang dipicu oleh gas anestesi tertentu (seperti halotan, isofluran) atau obat pelumpuh otot (suksinilkolin). Mengakibatkan kontraksi otot hebat dan lonjakan suhu tubuh ekstrem secara mendadak.
- Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS): Reaksi idiosinkratik akibat penggunaan obat antipsikotik (misalnya haloperidol) yang ditandai dengan kekakuan otot, ketidakstabilan otonom, dan hipertermia.
- Stroke Heat-like di ICU: Kerusakan langsung pada hipotalamus akibat stroke hemoragik, trauma kepala, atau tumor otak.
- Overdosis Obat / Interaksi Obat: Misalnya Serotonin Syndrome akibat interaksi obat antidepresan.
- Risiko Klinis: Dapat memicu rhabdomiolisis (hancurnya jaringan otot), gagal ginjal akut, koagulasi intravaskular diseminata (DIC), hingga kerusakan otak permanen.
- Penanganan Klinis di Rumah Sakit:
- Penghentian Agen Pemicu: Segera menghentikan gas anestesi atau obat antipsikotik yang dicurigai.
- Terapi Antidot Spesifik: Pemberian obat Dantrolene untuk kasus Hypertermia Maligna.
- Metode Pendinginan Agresif: Menggunakan Alat Hypohypertermia ini merupakan (metode terbaik) dengan menggunakan media Air yang di salurkan pada blanket yang sudah kita setting suhunya ( Dingin ) yang langsung di letakan atau menempel pada Body dan Kepala pasien secara langsung secara konsisten tanpa terhalang media udara ruang, Tindakan ini lebih akurat karena menyentuh dan menempel langsung pada kulit pasien.
Kesimpulan
Penanganan hipotermia dan Hypertermia pasca-operasi membutuhkan pendekatan dan penanganan penghangatan bertahap dan pendinginan yang agresif. Target utama penanganan adalah mengembalikan suhu inti tubuh pasien ke angka normal (>36°C) secara aman sebelum pasien diizinkan pindah ke ruang rawat inap biasa atau pulang.
Sumber kutipan Pada :
[3] https://www.siloamhospitals.com
[4] https://puskesmasperampuan-dikes.lombokbaratkab.go.id
[7] https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov
- American Society of Anesthesiologists (ASA): Practice Guidelines for Perioperative Practice. Pedoman ini secara konsisten menekankan pentingnya pemantauan suhu inti tubuh dan penggunaan metode penghangatan aktif seperti forced-air warming sebagai standar utama untuk mencegah komplikasi perioperatif.
- Association of periOperative Registered Nurses (AORN): Guidelines for Perioperative Practice: Patient Thermoregulation. Panduan praktis keperawatan bedah internasional yang mengatur protokol penanganan suhu di kamar operasi dan ruang pemulihan (PACU).
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE) Guideline [NG225]: Hypothermia: prevention and management in adults having surgery. Mengulas secara detail standarisasi pencegahan hipotermia sejak fase pre-operasi, intra-operasi (dengan fluid warmer), hingga manajemen pasca-operasi di ruang pemulihan.
- Jurnal Anestesiologi Indonesia / Jurnal Ilmiah Keperawatan: Berbagai studi klinis mengenai efektivitas pemberian selimut hangat (forced-air warming) dibandingkan selimut kain berlapis dalam menurunkan insiden menggigil (shivering) pada pasien pasca-anestesi umum dan spinal.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) khususnya pada Kode D.0131 (Hipotermia) dan I.14507 (Manajemen Hipotermia), yang menjadi acuan legal asuhan keperawatan di rumah sakit Indonesia.
